MAKALAH
PEMBELAJAR,
GIZAG DAN USWAH
DALAM STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Strategi
Belajar Mengajar
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron, M.S.I
Disusun oleh :
Restu Noviani 2021 111
091
Asyief Nurdianto 2021
111 113
Kukuh Dwi Atmono 2021 111 323
Kelas H
PRODI PAI JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar mengajar terjadi ketika
adanya interaksi antara pengajar atau pendidik dan peserta didik. Pembelajaran
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam memotivasi dan memfasilitasi
peserta didik agar dapat melakukan kegiatan belajar. Guru tidak hanya mengajar,
tetapi juga mendidik, hingga membelajarkan. Dari istilah Jawa, kerata basa, bahwa
guru iku digugu lan ditiru. Artinya, semestinya seorang guru
harus direspon, dipercayai, diteladani dan dipatuhi. Dari situlah seorang
pendidik menjadi panutan atau sosok yang akan menjadi teladan bagi peserta
didiknya. Keteladanan dari seorang pendidik sangatlah diperlukan karena akan
mampu menciptakan generasinya yang memilliki teladan pula. Apabila keteladanan
itu dimiliki oleh setiap generasi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa akan
tumbuh karakter yang membangun sebuah pola keteladanan dalam lingkungan mereka.
Uswah atau keteladanan yang dimiliki seorang pendidik juga
tidak terlepas dari unsur lain yaitu kewibawaan. Gezag atau kewibawaan
ini akan menjadi nilai lebih yang dipandang oleh orang lain terutama oleh
peserta didiknya. Seorang pendidik yang memiliki kewibawaan, tentu akan
dihormati, dipatuhi, diteladani bahkan ditakuti oleh peserta didik. Sehingga
dapat dijadikan sebuah modal bagi seorang pendidik yang akan mempermudah
melakukan tugasnya dengan baik dan berhasil baik pula.
Dari uraian di atas, tentang guru sebagai
pembalajar yang memiliki kewibawaan serta keteladanan, maka dalam makalah ini
akan dibahas mengenai hal tersebut guna menjadi beberapa bekal bagi para calon
pendidik menjadi seorang pendidik yang berkarakter seperti di atas.
BAB II
ISI
A. Hakikat Pembelajar,
Gezag dan Uswah
1. Pembelajar
Pembelajar atau yang umumnya kita kenal
sebagai pengajar, pendidik, atau lebih umum disebut guru merupakan sebutan
untuk seseorang yang dewasa secara psikologi, sehingga ia dapat memberikan
pengalaman-pengalaman belajar kepada orang lain khususnya kepada peserta didik.
Pembelajar juga merupakan komponen dari penting dalam kegiatan pendidikan,
tanpa adanya seorang pembelajar kegiatan pendidikan sulit untuk dilaksanakan.
Menurut Dewi S. Prawiradilaga (2007)
dalam bukunya yang berjudul Prisip Desain Pembelajaran, pengajar merupakan
istilah umum untuk seseorang ahli yang berprofesi sebagai guru, pendidik,
dosen, instruktur, widyaiswara, pelatih, fasilitator.
Seorang
pembelajar harus memiliki karakteristik atau sifat-sifat khas yang diperlukan
dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pembelajar yaitu:
a. Kematangan diri yang stabil
Seorang
pemelajar harus mampu peserta didiknya, serta harus dapat memahami nilai-nilai
kemanusian yang berkembang dalam lingkungannya. Sebelum memehami orang lain
seseorang harus dapat memahami dirinya sendiri terlebih dahulu. Untuk itu dia
harus memiliki kematangan diri yang stabil agar mampu memahami diri sendiri dan
peserta didiknya.
b. Kematangan sosial yang stabil
Seorang
pemelajar harus memiliki jiwa sosialitas yang tinggi, sehingga mampu menjalin
kerja sama dengan masyarakat. Serta memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
masyarakat sekitarnya. Sebab pada dasarnya segala pengalaman belajar yang akan
diberikan pada peserta didik harus sesuai dengan nilai-nilai social yang
berkembang pada masyarakat sekitar, agar kelak peserta didik dapat
mengaplikasikan segala pengalaman belajar yang ia terima kepada masyarakat
sekitarnya.
c. Kematangan professional
Seorang
pemelajar harus memiliki kemampuan untuk mendidik, artinya harus memiliki
pengetahuan yang cukup tentang latar belakang dan perkembangan anak didiknya.
Sebab pada dasarnya setiap anak didik terlahir dengan kepribadian dan kemampuan
belajar yang berbeda-beda. Ada anak yang terlahir dengan kemampuan belajar atau
tingkat kecerdasan yang tinggi, namun di samping itu ada juga anak yang
terlahir dengan kemampuan belajar yang rendah, atau bisa dibilang di bawah rata
– rata.
2. Gezag (kewibawaan)
Kewibawaan atau gezag, adalah
suatu daya mempengaruhi yang terdapat pada seseorang, sehingga orang lain yang
berhadapan dengan dia, secara sadar dan suka rela menjadi tunduk dan patuh
kepadanya. Jadi barang siapa yang memiliki kewibawaan, akan dipatuhi secara
sadar, dengan tidak terpaksa, dan tidak merasa/ diharuskan dan luar, dengan
penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh, menuruti semua yang
dikehendaki oleh pemilik kewibawaan itu.[1]
Kewibawaan merupakan
“alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch)
kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. Kewibawaan ini mengarah kepada
kondisi high touch, dalam arti perlakuan guru menyentuh secara positif,
kontruktif, dan komprehensif aspek-aspek kedirian/kemanusiaan anak didik. Dalam
hal ini guru menjadi fasilitator bagi pengembangan anak didik yang diwarnai
secara kental oleh suasana kehangatan dan penerimaan, keterbukaan dan
ketulusan, penghargaan, kepercayaan, pemahaman empati, kecintaan dan penuh
perhatian.
3. Uswah (keteladanan)
Pengertian keteladanan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
disebutkan bahwa kata “keteladanan” mempunyai akar kata “teladan” yaitu
perbuatan yang patut ditiru dan dicontoh. Jadi “keteladanan” adalah hal-hal
yang dapat ditiru atau dicontoh.[2]
Kata “keteladanan” dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata “Uswah” &
“qudwah”. Menurut Al-Asyfahani sebagaimana dikutip oleh Armai Arief,
bahwa menurut beliau “al-uswah” dan “al-iswah” sebagaimana
kata “al-qudwah” dan “al-qidwah” berarti “suatu keadaan
ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan,
atau kejahatan. Senada dengan Al-Ashfahani, Ibn Zakaria dalam buku Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam karya Armai Arief mendefinisikan kata
“uswah” berarti “qudwah” yang berarti ikutan, mengikuti yang
diikuti”. Dengan demikian keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau
dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud di
sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam,
yaitu keteladanan yang baik.[3]
Menjadi guru adalah menjadi
teladan. Keteladanan inilah modal seorang guru yang tak ternilai harganya. Aset
yang tidak akan terbayar, dengan gaji seberapapun besarnya. Keteladanan adalah
sebuah kekuatan. Khususnya bagi seorang guru untuk mendidik peserta didiknya menciptakan
masa depan yang lebih baik.[4] Sebagai
teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola,
seluruh kepribadiannya adalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru
sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru berbuat yang tidak atau kurang
baik, akan mengurangi kewibawaannya dan kharisma pun secara perlahan lebur dari
jati diri.[5]
B.
Perbedaan antara Mendidik, Mengajar dan Membelajarkan
Sering kita temui beberapa istilah yang
dianggap sama, ada juga yang menganggap berbeda, yaitu antara mendidik,
mengajar dan membelajarkan. Secara singkat, mengajar hanya lebih tertuju pada
penyampaian pesan atau ilmu kepada orang yang diajar dalam bidang pengetahuan
saja, sehingga apabila ilmu telah diterima dan diketahui maka dianggap telah
melakukan tugas mengajar. Sebagian besar, kegiatan mengajar hanya tertuju pada
ranah kognitif dan psikomotorik. Sedangkan mendidik memiliki tujuan lebih dari
itu. Mendidik berarti mengarahkan potensi akhlak atau moral si terdidik,
sehingga tidak hanya mengetahui ilmu pengetahuan, tetapi juga memenuhi unsur
afektif setelah memperoleh ilmu pengetahuan.
Membelajarkan lebih menuju pada
pembentukan dan pengembangan potensi yang ada pada seseorang, sekaligus
menghidupkan karakteristik seseorang sebagaimana mestinya. Antra lain akan
dapat menciptakan karakter sebagai seorang yang termotivasi, berinspirasi,
berwawasan, terorganisasi, berprinsip, berevaluasi, dan sebagainya.[6]
Mendidik adalah usaha melakukan
internalisasi nilai sesuai dengan ilmu yang ditranformasikan dalam kegiatan
mengajar. Hasil kegiatan mendidik itulah yang membedakan pola pikir dan cara
pandang siswa tentang sesuatu dan lebih kepada penanaman nilai kepribadian.
Mengajar
adalah kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan oleh guru kepada peserta didik
dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode mengajar, mulai dari
perencanaan sampai melakukan evaluasi. Kompetensi pendukung utama yang
diperlukan adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.[7]
C.
Kegunaan Gezag dan Uswah
Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan
norma-norma dalam diri si pendidik sendiri. Justru karena wibawa itu mempunyai
tujuan untuk membawa si anak ke tingkat kedewasaannya, yaitu mengenal dan hidup
yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syaratlah bahwa si pendidik
memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu
sendiri. Tidak ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya dari pada mereka
yang mewujudkan kewibawaan itu dalam dirinya sendiri.
Kewibawaan dan identifikasi di atas telah dikatakan bahwa tujuan dari
wibawa dalam pendidikan itu ialah, dengan wibawa itu si pendidik hendak
berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaannya. Ini berarti, secara
berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma
(seperti norma-norma kesusilaan, keindahan, ketuhanan dan sebagainya) dan
menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya. Syarat mutlak dalam
pendidikan ialah adanya kewibawaan pada si pendidik. Tanpa kewibawaan itu,
pendidikan tidak akan berhasil baik. Dalam setiap masam kewibawaan terdapatlah
suatu identifikasi sebagai dasar. Artinya, dalam melakukan kewibawaan itu si
pendidik mempersatukan dirinya dengan anak didik, juga yang dididik
mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya.[8]
Sedangkan
keteladanan, keteladanan dalam diri seseorang akan berpengaruh
pada lingkungan sekitarnya. Keteladanan yang diberikan tokoh masyarakat, akan
memberi warna yang cukup besar kepada masyarakat di lingkungan tempat
tinggalnya. Bahkan, keteladanan itu akan mampu merubah prilaku masyarakat di
lingkunganya. Dengan
keteladanan yang ia tunjukkan, seorang tokoh dengan mudah mempengaruhi banyak
orang untuk mewujudkan suatu tujuan, tentu saja untuk tujuan yang baik.
Demikian pula halnya keteladanan bagi
seorang guru, tidak saja harus ditunjukkan ketika berada di sekolah atau di
lingkungan sekolah.
Sosok guru dan profesinya melekat di mana saja mereka berada, sehingga kata “guru” selalu dipergunakan sebagai identitas, baik ketika guru tersebut melakukan aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan, maupun kegiatan yang jauh dari ranah pendidikan.[9]
Sosok guru dan profesinya melekat di mana saja mereka berada, sehingga kata “guru” selalu dipergunakan sebagai identitas, baik ketika guru tersebut melakukan aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan, maupun kegiatan yang jauh dari ranah pendidikan.[9]
BAB III
PENUTUP
Guru
merupakan seorang pembelajar, maka saat guru melupakan kebiasaannya ini maka
reduplah sebuah proses pendidikan. Guru harus terus belajar dan belajar untuk
meningkatkan kualitas dirinya. Dihadapan para siswa saat melakukan proses
pembelajaran sebenarnya guru sedang mempertaruhkan dirinya, harga dirinya
sedang dipertontonkan di hadapan para siswa. Apakah kebanggaan yang akan muncul
karena sajian yang memuaskan atau kekecewaan karena minimnya inovasi yang mampu
dilakukan saat memberikan sebuah proses pembelajaran.
Kewibawaan
merupakan tonggak utama yang harus dimiliki seorang guru sebagai pendidik dan
pembimbing. Dengan kewibawaan yang dipunyai guru berarti memiliki kemampuan
lebih, berpenampilan menarik, mempunyai kekuatan dan keahlian yang berhubungan
dengan pembelajaran yang meliputi: penguasaan materi pelajaran, kemampuan
mengelola kelas, kedekatan dengan siswa, bertanggungjawab dan sungguh-sungguh,
sehingga dengan demikian guru akan dijadikan sebagai panutan, contoh, bapak,
dan teman yang disegani oleh siswa.
Untuk menjadi teladan bagi siswa, bukanlah perkara mudah.
Banyak indikator tingkah laku yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perkataan,
baik di sekolah, di lingkungan sekolah, lebih lagi di lingkungan masyarakat.
Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Untuk itu, setiap guru harus senantiasa berupaya menjadi teladan bagi setiap siswanya, sehingga keteladanan yang diberikan akan mampu membawa perubahan yang berarti bagi anak didik dan juga bagi sekolah tempat ia mengabdi.
Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Untuk itu, setiap guru harus senantiasa berupaya menjadi teladan bagi setiap siswanya, sehingga keteladanan yang diberikan akan mampu membawa perubahan yang berarti bagi anak didik dan juga bagi sekolah tempat ia mengabdi.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:
Rineke Cipta.
Gordon,
Thomas. 1990. Guru yang Efektif: Cara untuk Mengatasi Kesulitan dalam
Kelas. Ed. 2. Cet. 3. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi
dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: Stain Press.
[1]
http://ndalaila.blogspot.com/2011/12/pentingnya-sebuah-kewibawaan.html
(Diakses tanggal 11 September 2013)
[2]
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 466
[3] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ciputat Press, 2002), cet.ke-2, hlm. 117
[4]
http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/11/mendiagnosa-penyakit-para-guru-di-indonesia-bagian-1-559186.html (Diakses
tanggal 11 September 2013)
[5] Syaiful
Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineke Cipta, 2000), hlm. 41
[6]
Ibid., hlm. 43-49
[7] Zaenal
Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalongan: Stain Press,
2009), hlm. 2-4
[8]
http://ndalaila.blogspot.com/2011/12/pentingnya-sebuah-kewibawaan-dalam.html
(Diakses tanggal 11 September 2013)
[9]
http://www.pekanbaruriau.com/2008/09/pentingnya-keteladanan-seorang-guru.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar